Kalo aja di berlakukan setiap rumah, pertokoan, wajib mempunyai tong sampah di halaman depannya, mungkin bisa mengurangi tebaran sampah di jalanan.
Kalo aja di berlakukan setiap RT/RW wajib mempunyai agenda kerja bakti untuk kebersihan setiap dua minggu sekali, mungkin pemandangan mata bisa lebih sejuk dan indah.
Kalo aja ada sanksi bagi yang buang sampah sembarangan, mungkin orang berfikir dua kali untuk melakukannya.
Ayo donk Indonesia..... Kita bersatu untuk bangun negeri ini. Jangan ada lagi perselisihan. Toh kita satu negara yang pernah merasakan dijajah dan memerdekakan negeri ini dengan sama-sam berjuang.
Jangan ada lagi perebutan kekuasaan. Toh itu hanya sebuah perwakilan, yang sebenarnya yang mengatur semua ini adalah kita semua.
Jangan ada lagi korupsi. Emang perut nya seGeDe apa sii butuh uang banyak baut makan? Emang keluarganya sebanyak apa si sampe butuh bangun rumah sebesar Istana?
Minggu, 18 Januari 2009
Sabtu, 17 Januari 2009
Kapan kita bisa menghargai?
Saat ini saya sedang menjalani masa pendidikan Diploma di sebuah Politeknik Negeri di Bandung. Dari awal saya mengikuti program pendidikan (SD, SMP, SMA, bahkan saat D3 sekarang ini) saya menemui keganjilan yang saya pikir adalah salah satu alasan mengapa kita bangsa Indonesia sulit mengalami kemajuan untuk bisa bersaing dengan negara-negara lain yang telah dahulu "berlari" meninggalkan kita jauh ke depan. Sifat "menghargai" yang saya maksud, sangat kurang pada kita saat sekarang ini. Di lingkungan sekolahan contohnya. Sangat sering sekali saya menemukan kurangnya sifat menghargai. Entah itu kepada teman, adik kelas,kakak kelas atau kepada guru atu dosen sekalipun. Teman-teman yang mencoba untuk menjawab pertnyaan guru atau dosen tapi salah, pasti ditertawakan. Pun kalau benar masih ada juga terdengar tertawaan mengejek yang terdengar.Saya katakan pasti karena dari hasil pengamatan yang saya peroleh 99% itu terjadi. Jadi serba salah jawab salah atupun benar tetap mendapat kesan yang tidak enak. Saya berfikir mengapa bukan tepuk tangan yang kita berikan, setidaknya penghargaan atas keberaniannya untuk menjawab pertanyaaan tersebut. Pertanyaan yang mendasar adalah apakanh yang menertawakan itu bisa menjawab dengan benar? ga usah benar deh, apakah yang menertawakan itu punya nyali untuk menjawab pertanyaan tersebut?
Walau saya tidak mepelajari ilmu psikolog tapi dengan pengalaman yang pernah saya alami, sedikit banyaknya perasaan takut ditertawakan oleh teman-teman untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan selanjutnya pasti ada. Ini menyababkan ada pendapat yang terpendam, padahal kalau disampaikan akan bisa menyatukan pendapat dan pemikiran dari beberapa otak yang ada dan bisa menemukan suatu pemikiran yang lebih cerdas.
Dan apa akibatnya jauh ke depan? Karena kebiasaan tersebut, hingga kita dewasa, saat dituntut untuk tampil berbicara di depan umum kelabakan, pucat, takut salah, karena dari sejak dini telah terbiasa untuk memendam pendapat dan tidak mempunyai pengalaman untuk berbicara secara lantang. Alhasil segala pemikiran yang kemungkinan besar cemerlang tidak tersalurkan.
Ayo donk kita mulai rubah kebiasaan-kebiasaan jelek ini. Mari kita mulai dari hal-hal yang kecil.
Engaku akan dihargai oleh oranglain kalau engkau bisa menghargai orang lain.
Kalau bukan dari kita lalu siapa lagi? Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi?dan kapan lagi kita bisa mengejar segala ketertinggalan kita dari negara-negara lain?
Walau saya tidak mepelajari ilmu psikolog tapi dengan pengalaman yang pernah saya alami, sedikit banyaknya perasaan takut ditertawakan oleh teman-teman untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan selanjutnya pasti ada. Ini menyababkan ada pendapat yang terpendam, padahal kalau disampaikan akan bisa menyatukan pendapat dan pemikiran dari beberapa otak yang ada dan bisa menemukan suatu pemikiran yang lebih cerdas.
Dan apa akibatnya jauh ke depan? Karena kebiasaan tersebut, hingga kita dewasa, saat dituntut untuk tampil berbicara di depan umum kelabakan, pucat, takut salah, karena dari sejak dini telah terbiasa untuk memendam pendapat dan tidak mempunyai pengalaman untuk berbicara secara lantang. Alhasil segala pemikiran yang kemungkinan besar cemerlang tidak tersalurkan.
Ayo donk kita mulai rubah kebiasaan-kebiasaan jelek ini. Mari kita mulai dari hal-hal yang kecil.
Engaku akan dihargai oleh oranglain kalau engkau bisa menghargai orang lain.
Kalau bukan dari kita lalu siapa lagi? Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi?dan kapan lagi kita bisa mengejar segala ketertinggalan kita dari negara-negara lain?
Langganan:
Komentar (Atom)
